
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM – Jalur Sambirejo-Brumbung, Plupuh, yang menjadi urat nadi utama ribuan siswa menuju sejumlah sekolah di kawasan tersebut, kini dalam kondisi rusak parah dan membahayakan. Ironisnya, kerusakan ini telah berlangsung lebih dari lima tahun dan diduga kuat terimbas dinamika serta sentimen politik lokal.
Jalur sepanjang sekitar 300 meter ini merupakan akses vital bagi siswa-siswi MTsN, MAN, SD, SMP, hingga SMA/SMK di wilayah Kecamatan Plupuh. Saat hujan turun, kondisi jalan bercampur lumpur dan banjir. Mengakibatkan ancaman serius bagi keselamatan para pengguna jalan, terutama pelajar.
Kondisi jalan yang berlubang dan tergenang ini semakin kontras dengan statusnya sebagai akses ke rumah masa kecil tokoh nasional, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, rumah Wakil Ketua DPRD Sragen Tri Handoko, dan Anggota DPRD Sragen Fraksi PKS Prihandoko.
Guru MTsN 4 Sragen, Joko Susilo, membenarkan kondisi memprihatinkan ini. Ia menaksir kerusakan parah mencakup sekitar 300 meter. Dia menyebut bahwa kerusakan terparah bahkan terjadi di dekat rumah anggota DPRD setempat.
“Kalau hujan biasanya banjir, jalannya rusak. Ini akses sekolah, tidak hanya MTs saja, tapi juga MAN, SMK, SMP. Ribuan siswa hampir melintas setiap hari,” tegas Joko.

Anggota DPRD Sragen, Prihandoko atau yang akrab disapa Hanjus mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, jalan ini tidak pernah tersentuh pembangunan selama lima tahun lebih. Padahal, taksiran anggaran Rp 1 miliar untuk perbaikan sepanjang 500 meter dinilai lebih dari cukup.
Prihandoko menyingkap adanya kejanggalan penganggaran di masa lalu. “Zaman Bupati Mbak Yuni sudah dikasih anggaran perbaikan, sekitar Rp 1,4 miliar untuk dua titik. Tiba-tiba pekerjaan dipindah ke jalan dekat PDAM ke utara, padahal kondisinya masih lumayan bagus. Saat itu sentimen politik saja,” ujarnya kritis.
Menurut anggota DPRD dari Fraksi PKS ini, Kejanggalan ini berlanjut hingga pembahasan APBD terbaru. Anggaran perbaikan jalan yang sempat masuk dalam pembahasan APBD Perubahan 2025 tiba-tiba menghilang. Bahkan, dalam draf APBD 2026 pun, penganggarannya belum jelas.
Hanjus secara blak-blakan menyinggung ketidakpekaan pejabat setempat, terutama mengingat jalan tersebut merupakan akses penting ke rumah tokoh politik Golkar sekaligus Menteri Wihaji, serta rumah Wakil Ketua DPRD Sragen sendiri.
“Secara politis, jalan ini akses rumah masa kecil menteri, tokoh Golkar. Namun seolah akses tersebut sengaja diabaikan,” singgungnya tajam.
Kritik juga dilontarkan terkait fasilitas umum lain di sekitar lokasi. “Jalan tersebut juga akses jalan rumah Wakil Ketua DPRD Sragen, tapi dasarnya memang tidak peka. Pasang lampu penerangan jalan juga tidak tepat posisinya, di dekat rumahnya saja, tapi jalan gelap diabaikan,” tutup Hanjus. ( Eny )
