
Karanganyar INDOGLOBENEWS.COM– Setelah dinyatakan hilang sejak Minggu (18/1/2026), pendaki bernama Yazid Ahmad Firdaus (26) akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Bukit Mongkrang, Kecamatan Tawangmangu. Korban ditemukan oleh tim pencari yang dipimpin salah satu anggota Wanadri, Sugiarto (55), Selasa (10/2/2026).
Sugiarto mengaku ikut bergabung dalam operasi pencarian secara mandiri setelah memantau perkembangan kasus tersebut. Ia bahkan menunda kepulangannya ke Aceh demi membantu proses pencarian.
“Saya pantau belum ketemu, akhirnya saya break dari Aceh. Mau pulang, tapi ikut teman-teman Wanadri stay di sini. Saya sudah analisa dari awal, merekayasa ulang kronologi dan data. Subjek ini mau ngapain, kondisinya seperti apa, hilang jam berapa. Dari analisa saya, korban ini sudah jauh dari titik awal,” ungkap Sugiarto.
Pada Senin (9/2/2026), tim mulai melakukan pencarian menggunakan teknik flying camp, yakni metode pencarian dengan bermalam di lokasi agar pergerakan tim lebih efektif tanpa harus kembali ke basecamp.

Tim menyisir jalur hingga mencapai aliran sungai. Pencarian dilakukan dengan metode susur sungai dari bawah ke atas guna meminimalkan risiko kecelakaan.
“Kami susur sungai dari bawah ke atas karena lebih aman. Kalau dari atas rawan terpeleset, banyak air terjun kecil yang membahayakan,” jelasnya.
Dalam pencarian tersebut, tim tidak menggunakan peralatan berat karena fokus pada mobilitas cepat dengan membawa perlengkapan camping dan logistik secukupnya.
Setelah melakukan pencarian sejak pagi hingga sore pada hari pertama, tim melanjutkan penyisiran pada Selasa pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, korban akhirnya ditemukan.

“Sekitar 54 menit pencarian, akhirnya ketemu. Jasadnya tidak terlihat jelas, hanya bagian kaki yang tampak di permukaan air, tertutup hanyutan batang pisang,” terangnya.
Lokasi penemuan berada di area tempuran sungai yang ekstrem dan sulit dijangkau. Tim segera menghubungi posko induk untuk meminta bantuan evakuasi.
Sugiarto menyebut kondisi jasad korban relatif masih utuh meski telah hilang selama lebih dari tiga pekan. Bau menyengat tercium dalam radius sekitar satu meter dari lokasi.
Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi suhu air yang dingin serta faktor cuaca di kawasan pegunungan, sehingga proses pembusukan berjalan lebih lambat.
Proses evakuasi korban kemudian dilakukan oleh tim gabungan dari relawan dan petugas terkait untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga.(HS)
