
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar para siswa di awal Ramadan ini tengah menjadi sorotan tajam. Alih-alih menuai apresiasi, jagat media sosial justru riuh dengan keluhan terkait kualitas paket makanan yang dibagikan. Mulai dari menu “kering” yang dianggap kurang variatif, hingga temuan telur rebus yang masih mentah saat dibawa pulang siswa.
Budiono Rahmadi, salah satu mitra penyedia tempat (dapur) MBG, tak menampik adanya kendala teknis di lapangan. Menurutnya, transisi menu dari makanan siap saji ke paket “menu kering” selama bulan puasa ternyata membawa kerumitan tersendiri bagi pengelola dapur.
“Memang menu kering itu agak merepotkan untuk disusun. Tim di dapur, mulai dari ahli gizi hingga akuntansi, harus memutar otak lebih keras karena pilihannya terbatas, paling hanya roti dan buah,” ujar Budiono saat dihubungi awak media kemarin.
Persoalan bukan sekadar jenis menu, tapi juga keterbatasan ruang gerak finansial. Budiono membeberkan bahwa dengan bujet Rp 10.000 untuk porsi dewasa dan Rp 8.000 untuk anak-anak, variasi menu menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang memicu kejenuhan dan protes dari wali murid di media sosial.
“Setelah kami minta keterangan, tim memang agak keteteran. Dengan nominal tersebut, pilihannya ya itu-itu saja. Intinya, kreativitas menu sedang diuji habis-habisan,” imbuhnya.
Terkait viralnya temuan telur dan buah yang belum matang, Budiono memberikan penjelasan logis namun sekaligus menjadi kritik bagi sistem pengadaan. Pihaknya menyebut, pengadaan dalam jumlah besar seringkali menabrak keterbatasan infrastruktur UMKM lokal.
“Contohnya alpukat atau pisang. Kalau mau matang serentak dalam jumlah ribuan, itu pesannya harus tiga hari sebelumnya, bahkan perlu proses imbu (pemeraman). Kalau mendadak, ya pasti ada yang mentah,” jelasnya.
Masalah kian pelik karena instruksi pusat mewajibkan pelibatan UMKM, sementara dari sisi infrastruktur, banyak UMKM yang belum siap menangani kapasitas raksasa. “Kalau disuruh mengolah ayam dalam jumlah kuintal, banyak UMKM yang alatnya tidak mampu. Di sisi lain, kita tidak disarankan mengambil dari pabrik besar. Hal-hal seperti ini yang jadi kendala di lapangan,” cetus Budiono.
Menyikapi problematika ini, Budiono menyarankan agar pengelola dapur MBG lebih berhati-hati dalam memilih jenis protein dan buah. Ia mendorong peningkatan porsi susu dan telur, namun dengan pengawasan matang yang lebih ketat.
“Ini bukan makanan siap saji yang langsung dimakan di tempat, tapi dibawa pulang untuk buka puasa. Perlu kehati-hatian ekstra, istilahnya harus ‘main aman’ agar kualitas tetap terjaga sampai ke tangan siswa,” pungkasnya. ( BiMush IGN )

