
Poto : Bupati Sragen Sigit Pamungkas kunjungi Desa Sribit Kecamatan Sidoharjo,cek kondisi banjir Jumat 7/3/2026* —————————*
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM – Kabupaten Sragen seolah “terkepung” air. Hujan deras yang mengguyur sejak Rabu malam (4/3/2026) hingga Kamis (5/3/2026) berhasil membuat Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya meluap. Imbasnya, akses jalan di lima kecamatan berubah fungsi menjadi kolam dadakan.
Seperti yang terpantau di akses jalan di wilayah Kecamatan Sidoharjo, air berwarna cokelat pekat merendam aspal hingga sebetis orang dewasa. Area sawah pun layaknya danau yang penuh dengan air.
Di tengah kepungan banjir, tampak seorang ibu harus menggendong anaknya menembus genangan. Di sampingnya, warga lain berupaya melintas dengan sepeda motor yang dipaksakan menyala. Mobil ambulans pun tampak siaga di tepi jalan, menandakan situasi yang belum sepenuhnya aman.

Bupati Sragen Sigit Pamungkas tak tinggal diam. Jumat (6/3/2026) ia bersama rombongan “turun gunung” meninjau titik terparah di Kecamatan Sidoharjo, yakni Desa Pandak, Sribit, dan Tenggak.
Sigit Pamungkas punya penjelasan sederhana soal “kenapa” wilayahnya terendam. Ini adalah masalah klasik pertemuan dua arus. “Bengawan Solo debitnya terlalu besar. Sementara air dari Sungai Munggung yang mau masuk justru terhambat. Jadinya macet, meluap ke permukiman dan jalan,” ujarnya.
Singkatnya, air anak Sungai tak punya tempat untuk membuang beban karena “induknya” (Bengawan Solo) sedang penuh sesak. Dampaknya tidak main-main. Ratusan hektare lahan padi terancam gagal panen.
Jika diuangkan, potensi kerugian petani mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi urusan infrastruktur seperti jembatan yang mulai tergerus air.

Kepala Pelaksana BPBD Sragen, R. Triyono Putro, menambahkan bahwa pihaknya harus putar otak membantu warga, terutama anak-anak sekolah yang terpaksa bertaruh nyawa melintasi jalanan terendam setinggi 60–70 sentimeter.
“Di Pandak dan Sribit itu yang paling awet airnya. Kami pantau terus, termasuk pakai drone supaya tahu titik mana yang masih butuh bantuan evakuasi,” tegas Triyono.
Meskipun kondisi air mulai berangsur surut, pemkab tidak ingin bersantai. Koordinasi lintas instansi terus digeber. Sembari menunggu air benar-benar surut, warga diminta tidak lengah. Sebab, cuaca ekstrem bukan lagi tamu asing, melainkan ancaman yang bisa datang kapan saja. ( wah )

