
WONOGIRI INDOGLOBENEWS .COM – Konflik antara primata dan manusia di Wonogiri memasuki babak baru. Alih-alih menggunakan cara represif, Setiadharma Foundation memilih jalur ekologis untuk memulangkan “warga hutan” ke habitatnya. Melalui gerakan Jogo Alas, ratusan bibit pohon keras mulai dipasak di tanah gersang kawasan hutan Ngampel dan Bah Klampok, Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno.
Targetnya ambisius: 1.000 pohon. Hingga awal Februari 2026, sebanyak 700 bibit telah kokoh tertanam. Langkah ini merupakan respons darurat atas fenomena monyet masuk pemukiman yang kian meresahkan dalam tiga tahun terakhir.
Founder Setiadharma Foundation, M.B. Setiadharma, mengungkapkan bahwa akar masalah dari serbuan monyet ke rumah warga adalah rusaknya “dapur” mereka di hutan. Akibat penebangan liar dan pembukaan lahan, sumber pangan alami primata ludes.

“Kalau rumahnya rusak, mereka pasti keluar cari makan. Penanaman ini adalah upaya kita mengembalikan hutan sebagai rumah sekaligus penyedia pakan alami. Kita ingin meminimalkan gesekan antara satwa dan warga secara permanen,” ujar Setiadharma.
Tak sembarang pohon yang ditanam. Tim memilih varietas kayu keras dan pohon buah yang fungsional, antara lain Penyerap Air dan Peneduh: Beringin, Pule, Randu Alas, dan Gayam. Sumber Pakan: Mangga, Rambutan, Jambu Mete, dan Asam.
Setiadharma memastikan gerakan ini bukan sekadar seremoni tanam-lalu-tinggal. Relawan Jogo Alas telah menjadwalkan perawatan rutin. “Kami pastikan 700 pohon yang sudah tertanam ini tumbuh maksimal, bukan sekadar angka di laporan,” imbuhnya.
Senada, Lurah Selopuro Yohanes Wiratmoko menyebut gerakan ini sebagai alarm bagi kesadaran ekologis warga. Menurutnya, serangan monyet yang sampai masuk ke atap rumah warga adalah sinyal bahwa keseimbangan alam di Batuwarno sedang goyah.

“Ini edukasi bagi warga. Menjaga hutan berarti menjaga keselamatan diri kita sendiri. Kalau hutan rimbun, monyet tidak akan menjarah ladang atau masuk dapur warga,” kata Yohanes.
Asper/KBKPH Perhutani Baturetno, M. Sartono, menyambut baik inisiatif non-pemerintah ini. Menurutnya, kolaborasi adalah kunci utama mengelola kawasan hutan yang luas.
“Hutan tidak bisa dijaga sendiri oleh petugas. Sinergi antara relawan, masyarakat, dan Perhutani adalah kunci. Jika pohon-pohon buah ini tumbuh subur, dampaknya ganda: ekosistem pulih, dan warga sekitar pun bisa memanen nilai ekonomisnya,” jelas Sartono.
Harapannya, dalam lima tahun ke depan, hutan Ngampel dan Bah Klampok tak lagi sekadar hamparan lahan, melainkan “benteng hijau” yang memisahkan sekaligus mengharmonisasikan kehidupan manusia dan primata di Wonogiri.( wah )
