
BOYOLALI INDOGLOBENEWS.COM– Sebuah potret indah tentang toleransi dan kebersamaan tampak nyata di Dukuh Mojorejo dan Mojosari, Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari, pada perayaan Idulfitri tahun ini.
Di tengah perbedaan penetapan hari raya, warga tetap hidup rukun dan saling menghormati. Sebagian masyarakat melaksanakan Salat Id pada 20 Maret 2026, sementara sebagian lainnya merayakan pada 21 Maret 2026.
Namun, perbedaan itu tidak menjadi sekat. Justru sebaliknya, menghadirkan suasana yang lebih hangat dan penuh makna.
Alih-alih menimbulkan jarak, momen ini menjadi berkah tersendiri. Tradisi halal bihalal yang biasanya dilakukan dalam satu hari, kini terasa lebih panjang. Warga dapat saling berkunjung dari rumah ke rumah secara bergantian, mempererat tali silaturahmi tanpa batas waktu.

“Alhamdulillah, meskipun berbeda hari, kami tetap bersama. Hari ini silaturahmi ke yang sudah Lebaran, besok gantian ke yang merayakan. Rasanya justru lebih hangat,” tutur salah satu warga.
Suasana kampung dipenuhi senyum dan kehangatan. Pintu rumah terbuka, hidangan Lebaran tersaji, dan sapaan penuh maaf mengalir tanpa memandang perbedaan.
Nilai toleransi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat. Perbedaan tidak diperdebatkan, melainkan diterima sebagai bagian dari keberagaman yang memperkaya kebersamaan.

Tokoh masyarakat setempat menyampaikan bahwa sikap saling menghargai seperti ini sudah menjadi budaya yang dijaga turun-temurun.
“Kami sudah terbiasa saling menghormati. Perbedaan bukan masalah, justru jadi cara untuk mempererat persaudaraan,” ungkapnya.
Kisah dari Dukuh Mojorejo dan Mojosari ini menjadi cerminan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari kesamaan, tetapi dari sikap saling memahami.
Idulfitri tahun ini pun terasa lebih panjang, lebih hangat, dan lebih indah—karena dirayakan dengan hati yang lapang dan penuh kasih.
Jurnalis: Hendri Siswanto

