
Bandung Barat Indoglobe News- Sudah dua tahun berlalu sejak Jeje Richie Ismail mengemban amanah sebagai Bupati Bandung Barat. Waktu yang seharusnya cukup untuk menunjukkan arah, gebrakan, dan hasil nyata. Namun, yang dirasakan sebagian masyarakat justru sebaliknya: hening, datar, dan nyaris tanpa jejak kinerja yang bisa dirasakan langsung.
Pemerintahan berjalan, kegiatan tetap ada, rapat terus digelar. Tapi satu hal yang mulai dipertanyakan publik adalah “mana hasilnya?”
Program datang dan pergi, rencana disusun, anggaran disebutkan, tetapi implementasi di lapangan terasa seperti bayangan, ada dalam dokumen, hilang dalam kenyataan. Desa-desa masih menunggu, masyarakat masih bertanya, dan pembangunan seolah berjalan di tempat.
Dua tahun seharusnya bukan lagi masa adaptasi. Bukan lagi waktu untuk “melihat situasi”. Dua tahun adalah fase pembuktian. Namun, jika yang terlihat justru minim perubahan, maka wajar jika muncul anggapan bahwa pemerintahan berjalan tanpa arah yang tegas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, lemahnya kontrol terhadap perangkat di bawah justru membuka ruang bagi pola lama untuk terus bertahan: birokrasi yang lambat, program yang tersendat, dan kebijakan yang tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Seorang Bupati bukan hanya simbol jabatan. Ia adalah penggerak utama roda pemerintahan. Jika mesin di bawah tidak berjalan, maka yang dipertanyakan bukan hanya bawahannya, tetapi juga siapa yang mengendalikan.
Pertanyaannya : Apakah cukup memimpin dari balik meja?, Apakah laporan yang terlihat rapi sudah dianggap sebagai bukti kinerja?, atau justru realita di lapangan yang luput dari perhatian?
Bandung Barat bukan kekurangan potensi. Tapi , tanpa kepemimpinan yang kuat dan kontrol yang nyata, potensi itu hanya akan menjadi angka dalam presentasi, bukan perubahan yang dirasakan masyarakat.
Bandingkan dengan daerah lain yang berani mengambil langkah tegas, memangkas birokrasi, dan memastikan pelayanan benar-benar sampai ke rakyat. Di sanalah, kepemimpinan akan terasa.
Di sini, publik kembali bertanya: apakah kita benar-benar sedang dipimpin oleh Seorang Bupati yang mensejahterakan rakyat nya!?..
Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan, Bahwa” kepercayaan masyarakat tidak dibangun dari janji, tetapi dari bukti dan waktu demi waktu yang terus berjalan, tidak menunggu dan terus menunggu.
Jika dua tahun pertama berlalu tanpa arah yang jelas, maka sisa waktu ke depan menjadi pertaruhan besar bagi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
Apakah akan ada perubahan nyata, atau justru memperpanjang daftar kekecewaan warga Masyarakat Bandung Barat?
Karena, pada akhirnya, masyarakat tidak butuh penjelasan panjang dan bertele-tele, tetapi masyarakat
hanya ingin melihat satu hal, yaitu
“Hasil dan Bukti Nyata”.
(Urip Kusnadi)
