
KARAWANG, Indoglobenews.com – Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggandeng Pondok Pesantren Nihayatul Amal dalam Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana di Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu (15/12/2024).
Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk mengakselerasi penurunan angka stunting dan membangun ketahanan keluarga melalui pendekatan keagamaan, dengan melibatkan langsung tokoh agama, kader, dan ratusan warga setempat.
Acara yang dipimpin Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., tersebut menekankan pentingnya sinergi kebijakan pusat dengan pemangku kepentingan lokal.
Dalam pemaparannya, dr. Cellica menyatakan bahwa pendekatan melalui pesantren efektif karena melibatkan tokoh dengan otoritas moral. “Pesan kesehatan reproduksi dan ketahanan keluarga akan lebih mudah diterima masyarakat jika disampaikan dengan menyentuh hati,” jelasnya.
Menanggapi inisiatif ini, Pimpinan Pondok Pesantren Nihayatul Amal, KH. Badrussalam Bushaeri, menyambut baik kolaborasi dan menyatakan komitmen pesantren untuk ikut serta membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berakhlak.
Direktur Pendayagunaan Lembaga BKKBN, Wahyuniati, S.I.P., M.P.H., memaparkan bahwa pemanfaatan lembaga strategis seperti pesantren merupakan kunci untuk menyukseskan Program Bangga Kencana dan mencapai target keluarga ideal.
Implementasi konkret di tingkat provinsi menjadi fokus penyampaian Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan legislatif dan dukungan pesantren adalah kunci keberhasilan.
“Kami memastikan data stunting dan indikator keluarga berencana di Jawa Barat terukur dan ditindaklanjuti secara cepat oleh lini lapangan,” tegas Dr. Dadi.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Karawang. Kabid PPK Kabupaten Karawang, H. Edi Zulkarnaen, M.AP., menyampaikan kesiapan pemerintah daerah untuk mengawal pelaksanaan program hingga tingkat desa, agar manfaatnya dirasakan seluruh warga.
Fasilitasi Teknis yang diselingi sesi tanya jawab interaktif ini ditutup dengan pembagian merchandise sebagai apresiasi. Proses edukasi serupa dijadwalkan akan berlanjut untuk memperkuat pemahaman masyarakat.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan multisektoral dan kultural dalam mengatasi tantangan kependudukan seperti stunting, dengan menjadikan lembaga keagamaan sebagai mitra utama penyampaian program pemerintah hingga ke akar rumput.
(Irwan DS)
