
SRAGEN INDOGLOBENEWS .COM– Di tengah gempuran gadget dan arus digitalisasi, SD Negeri Katelan 1 di Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, menghadirkan terobosan yang memikat hati para pelajar: Pelayanan Perpustakaan One Day One Book. Inovasi ini digagas oleh Fajar Dewi Septiari, S.Pd., dengan misi mulia untuk membentuk budaya literasi sejak dini melalui pendekatan sederhana namun konsisten—membaca satu buku setiap hari.
Program ini berpusat di Perpustakaan Ceria, sebuah sentra literasi yang tak hanya menyediakan koleksi buku fiksi dan nonfiksi yang beragam, tetapi juga memperpanjang jam layanan hingga pukul 15.00 WIB. Ini memungkinkan siswa untuk tetap bisa mengakses perpustakaan meskipun jam pelajaran sudah usai.
Dengan sistem terjadwal dari kelas 1 hingga 6, setiap siswa mendapat giliran membaca buku setiap hari, sesuai semangat “One Day One Book”.
Fajar Dewi Septiari menekankan pentingnya Membangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Membaca. “Minat baca harus dibentuk sebagai kebiasaan harian. Anak-anak perlu ruang yang menyenangkan dan akses yang mudah. Di sinilah Perpustakaan Ceria mengambil peran,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi bagian penting dalam menyukseskan amanat Undang-Undang Sisdiknas untuk mewujudkan wajib belajar yang berkualitas.
“Inovasi One Day One Book adalah bentuk konkret literasi berbasis karakter. Ini bukan hanya soal membaca, tetapi tentang membangun kebiasaan belajar mandiri yang kelak sangat dibutuhkan dalam jenjang pendidikan selanjutnya,” tegasnya.
Selain koleksi buku konvensional, Perpustakaan Ceria juga melek teknologi dengan menyediakan Chromebook dan akses internet. Fasilitas ini mendukung siswa dalam pencarian materi secara digital dengan pengawasan guru, menambah pengalaman belajar berbasis teknologi secara aman.
Manfaat inovasi ini sudah terlihat nyata di lingkungan sekolah. Antusiasme siswa melonjak, kunjungan ke perpustakaan menjadi kegiatan harian yang ditunggu-tunggu, dan secara bertahap wawasan serta kemampuan akademik mereka pun berkembang pesat.
“Sekarang anak-anak kami rutin datang ke perpustakaan. Mereka sendiri yang ingin membaca, bukan disuruh,” tambah salah satu guru pendamping dengan bangga.
Program One Day One Book membuktikan bahwa inovasi tak harus rumit atau mahal. Dengan komitmen kuat, kreativitas, dan pendekatan yang ramah anak, budaya literasi bisa tumbuh subur bahkan di tengah tantangan era digital, membentuk generasi pembelajar yang mandiri dan berwawasan luas.( Wah )
