
Sergai-indoglobenews
Sei Rampah
Sebuah video yang menjadi viral di media sosial (medsos) Facebook pada Januari 2026 yang diposting salah seorang guru terkait temuan cacing dan ulat terpisah pada menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima pelajar selaku penerima manfaat.
Ternyata peristiwa terjadi di SMKN 1 Sei Rampah, Kab.Serdang Bedagai di Desa Pematang Ganjang Kec. Sei Rampah, sedangkan menu MBG berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yayasan Bintang Ceria berlokasi di Jl. Medan-Tebing Tinggi Dusun VI Desa Sei Rampah Kec. Sei Rampah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Sei Rampah, Yunita Elmida, Selasa (24/2) kemarin menyatakan pihaknya membenarkan bahwa video yang beredar di media sosial tersebut berasal dari lingkungan sekolahnya.
Dirinya menjelaskan, temuan pertama berupa cacing yang masih hidup di dalam nasi. Atas kejadian itu, pihak sekolah telah menghubungi pihak SPPG Sei Rampah sebagai penyalur MBG.

Waktu itu katanya, pihak SPPG hanya menyarankan agar makanan dikembalikan melalui sopir pengantar ompreng. Namun siswa satu kelas tidak bersedia lagi mengonsumsinya. Tidak ada penggantian makanan, hanya diminta dikembalikan sebagai bukti.
Berselang beberapa hari imbuhnya, kembali ditemukan ulat dalam kondisi mati pada menu MBG, temuan tersebut dilaporkan langsung oleh siswa kepada pihak sekolah, video dokumentasi kemudian diunggah ke media sosial sebagai bentuk evaluasi.
Diakui Wakil Kepala Sekolah bahwa sudah dua kali kejadian, yang pertama cacing masih hidup, yang kedua ulat sudah mati.
” Kami membagikan video itu sebagai bahan evaluasi, bukan untuk kepentingan lain,” jelas Yunita.

Setelah unggahan tersebut viral lanjutnya, seseorang yang mengaku sebagai Kepala SPPG Sei Rampah mendatangi sekolah dan memohon agar video tersebut dihapus dari akun media sosial perekam, Namun pihak sekolah meminta adanya perbaikan nyata sebelum video ditarik.
Ditambahkannya , pihak SMKN 1 Sei Rampah tercatat sebagai penerima manfaat MBG sebanyak 832 siswa dan 55 guru, dengan total 897 penerima distribusi dari SPPG Sei Rampah yang berlokasi Jalinsun Medan Tebing Tinggi Sei Rampah tepatnya disamping eks Rumah Makan Cindelaras.
Sebelumnya imbuhnya, sekolah sempat menerima distribusi MBG dari SPPG lain, selama itu tidak pernah menemukan permasalahan serupa. Namun karena kebijakan pemerataan, distribusi dialihkan ke SPPG Sei Rampah.
Wakil Kepala Sekolah tersebut menegaskan, sebelum mengunggah video itu, pihaknya telah lebih dahulu mengirimkan dokumentasi dan melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG, menurutnya langkah tersebut semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab moral agar kualitas makanan yang diberikan kepada peserta didik benar-benar layak konsumsi.
“ Program MBG ini seharusnya bermanfaat untuk anak-anak. Kalau ditemukan cacing hidup dan ulat, tentu sangat memprihatinkan. Kami khawatir jika terjadi sesuatu, sekolah yang akan disalahkan”, pungkas Yunita seraya menambahkan sejak kejadian tersebut, pihak sekolah mengimbau peserta didik agar selalu memeriksa makanan sebelum dikonsumsi dan memastikan setiap kelas diawasi guru saat pembagian MBG berlangsung.

Selain itu pihak sekolah berharap agar pengelolaan dapur SPPG lebih meningkatkan standar kebersihan dan higienitas sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah dan meminta pihak terkait agar melakukan pengawasan dan evaluasi keseluruhan terhadap operasional SPPG Sei Rampah, tutupnya.
Kepala SPPG Sei Rampah, Rico Hartono Hutagaol, Kamis (25/2) yang dikonfirmasi via layanan WhatsApp terkait temuan cacing dan ulat dalam menu MBG menyampaikan bahwa pada Januari lalu memang terdapat temuan yang diakui sebagai kesalahan dari pihak dapur yang dipimpinnya.
Atas temuan tersebut, lanjut Kepala SPPG Sei Rampah, pihaknya langsung bertemu dengan pihak sekolah yakni ibu Yunita dan menyelesaikannya secara langsung, pihaknya juga telah menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian yang terjadi.
” Kamipun berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar lebih baik”, cetus Rico Hartono Hutagaol.(M Yamin Nasution)

