
BOYOLALI INDOGLOBENEWS.COM– Sebuah bangunan SPPG yang berada di Desa Klayutan, Kelurahan Ketitang, Kecamatan Nogosari Boyolali, kini terlihat hampir siap beroperasi. Namun, keberadaan proyek tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan warga sekitar, terutama terkait proses perekrutan karyawan yang dinilai tidak terbuka.
Pantauan wartawan di lokasi, tidak terlihat adanya plang atau pengumuman rekrutmen tenaga kerja di sekitar bangunan. Padahal biasanya, jika sebuah fasilitas akan segera beroperasi, informasi lowongan kerja akan diumumkan agar masyarakat sekitar dapat mendaftar.
Saat ditemui di lokasi, penjaga SPPG bernama Merlindani mengatakan bahwa proses wawancara calon pekerja sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu.
“Sudah ada interview dilakukan dan itu sudah agak lama,” ujarnya kepada wartawan.

Ketika ditanya siapa penanggung jawab gedung tersebut, Merlindani menyebut nama Pak Topo, yang menurutnya berasal dari Sukoharjo. Wartawan kemudian meminta nomor WhatsApp Topo untuk melakukan konfirmasi lebih lanjut. Meski sempat terlihat keberatan dan menyebut nomor tersebut kemungkinan sudah tidak aktif, Merlindani akhirnya memberikan nomor kontak tersebut.
Setelah berhasil menghubungi Topo melalui pesan singkat, wartawan menanyakan perihal lowongan relawan atau pegawai di SPPG yang dikelolanya. Dalam balasannya, Topo menyebut bahwa proses perekrutan sudah lama ditutup.
“Sudah close lama, sekitar 4 bulan yang lalu,” tulisnya singkat.
Namun ketika ditanya lebih lanjut mengenai jalur perekrutan dan alasan mengapa warga sekitar tidak mengetahui adanya informasi lowongan, pesan tersebut tidak lagi mendapat balasan.
Wartawan juga menanyakan kepada sejumlah warga Kelurahan Ketitang terkait keberadaan SPPG dan informasi lowongan kerja di tempat tersebut. Hasilnya, sebagian besar warga mengaku tidak mengetahui adanya proses perekrutan tenaga kerja.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat menyayangkan kondisi tersebut.
“Harusnya kalau ada tempat kerja baru seperti itu, warga sekitar dulu yang diutamakan. Ini malah banyak yang tidak tahu, tahu-tahu sudah ditutup,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan perangkat Desa Ketitang melalui pesan singkat, Bambang, salah satu perangkat desa, mengaku belum menerima informasi resmi terkait perekrutan tenaga kerja di SPPG tersebut.

Situasi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai transparansi proses perekrutan karyawan. Warga berharap jika SPPG benar-benar akan beroperasi, maka ke depan informasi mengenai kesempatan kerja dapat disosialisasikan secara terbuka melalui desa atau kelurahan, sehingga masyarakat sekitar juga memiliki kesempatan untuk bekerja.
Kasus ini kini menjadi perhatian warga, yang berharap adanya klarifikasi dari pihak pengelola SPPG mengenai proses perekrutan yang dinilai terkesan tertutup tersebut. Jika benar peluang kerja sudah terisi tanpa diketahui warga sekitar, masyarakat berharap ke depan prioritas tenaga kerja lokal dapat lebih diperhatikan.(Hs)

