
SRAGEN INDOGLOBENEWS .COM — Semangat menebar kebaikan di bulan suci ditunjukkan ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (DIMSA). Tak sekadar berdiam di asrama, para santri ini “terjun” ke masyarakat. Bahkan, tujuh santri terpilih melintasi batas negara untuk berdakwah di Malaysia selama hampir sebulan penuh.
Senin pagi (16/2/2026) riuh rendah keceriaan menyelimuti kawasan Sragen. Sebanyak 540 santri tumpah ruah ke jalanan, menggelar pawai menyambut Ramadan. Memulai rute dari pondok menuju Taman Kridoanggo, mereka tak hanya berjalan kaki, tapi juga menyapa warga sembari membagikan jadwal imsakiyah.
Kepala SMP Ponpes DIMSA, Ustad Wibowo Juli Saputro, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan pemanasan sebelum para santri memasuki fase ibadah yang lebih intens. Selama Ramadan, kegiatan belajar formal dipangkas hingga pukul 10.00 WIB saja. Sisanya Fokus pada hablun minannas dan hablun minallah.
“Target kami santri minimal dua kali khatam Al-Quran. Selain itu, mereka akan lebih banyak berbaur dengan warga untuk iktikaf di masjid-masjid sekitar,” ujar Wibowo.

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah program Syiar Dakwah (Sidak). Jika santri tingkat SMP fokus di lingkungan sekitar, santri tingkat Madrasah Aliyah (MA) mendapat tantangan lebih besar. Mereka diterjunkan ke 20 titik pelosok di wilayah Sragen hingga Ngawi.
Yang luar biasa, jangkauan dakwah tahun ini menembus semenanjung Malaya. Melalui kerja sama dengan sekolah di Penang, Malaysia, DIMSA memberangkatkan tujuh santri pilihan untuk mengabdi di sana. Mereka dijadwalkan bertugas sejak sebelum Ramadan hingga H-7 Idul Fitri.
Di Negeri Jiran, ketujuh santri ini tidak hanya menjadi tamu. Mereka memegang peran sentral sebagai garda depan syiar Islam. “Selama di Malaysia, mereka mengajar TPA, mengisi materi di pesantren kilat, hingga dipercaya menjadi imam salat tarawih di masjid-masjid setempat,” imbuh Wibowo.
Langkah ini menjadi bukti bahwa santri dari daerah tidak boleh minder. Dengan bekal hafalan Al-Quran dan kemampuan orasi yang mumpuni, para santri DIMSA membuktikan bahwa dakwah Islam yang sejuk dan berkemajuan bisa diterima hingga level internasional. Bagi para santri ini, Ramadan bukan soal menahan lapar semata, melainkan momentum pembuktian diri bahwa pengabdian tak mengenal jarak,bahkan hingga ke seberang lautan.*( BiMush )
