
Dalam dialog tersebut, Linda menjelaskan bahwa PKK merupakan organisasi kemasyarakatan yang telah lama hadir dan berperan aktif dalam pembangunan keluarga. Sejak berdiri pada tahun 1960, PKK awalnya fokus pada isu ekonomi dan kemiskinan, namun kini cakupan programnya semakin luas dan menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.
“PKK memiliki 10 program pokok yang turunannya sangat banyak. Mulai dari ekonomi, lingkungan, keluarga, pendidikan, hingga sosial, semuanya ada di PKK,” jelasnya.
Terkait ketahanan keluarga, Linda menyampaikan bahwa konsep tersebut sesungguhnya sangat luas. Namun pada tahun 2026, PKK Kabupaten Sragen menitikberatkan penguatan ketahanan keluarga pada aspek psikologis, tanpa mengesampingkan aspek ekonomi dan pendidikan.
Untuk mendukung hal tersebut, PKK memiliki sejumlah program, salah satunya PAREDI (Pola Asuh Anak Era Digital) yang memberikan pemahaman kepada orang tua tentang pengasuhan anak yang tepat di tengah tantangan era digital. Selain itu, terdapat pula Jam Interaksi Keluarga atau Jam Intan yang mendorong terbangunnya komunikasi positif antaranggota keluarga.
“Tahun 2026 ini PKK mengusung tema ketahanan keluarga. Kita ingin keluarga kembali menjadi modal utama bagi setiap anggotanya sebelum mereka beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Linda menegaskan bahwa penguatan ketahanan keluarga tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab PKK semata. Oleh karena itu, PKK melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat melalui kegiatan Training of Trainers (TOT), agar pesan-pesan ketahanan keluarga dapat disampaikan secara luas di berbagai forum masyarakat.
Selain itu, PKK Kabupaten Sragen juga melibatkan Generasi Berencana (Genre) sebagai perpanjangan tangan edukasi kepada kalangan remaja. Genre yang berbasis sekolah dan masyarakat di 20 kecamatan dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada sesama remaja.

PKK juga bekerja sama dengan BKKBN Jawa Tengah yang memiliki 12 modul pengasuhan positif. Modul-modul tersebut akan disosialisasikan melalui kegiatan TOT kepada para kader Genre agar mampu mengedukasi dan memengaruhi komunitasnya masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Linda juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang kerap muncul akibat lemahnya ketahanan keluarga, seperti perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga penyimpangan perilaku.
Menurutnya, salah satu tantangan saat ini adalah perubahan pola hidup pascapandemi COVID-19 yang membuat seluruh anggota keluarga, baik orang tua maupun anak, semakin bergantung pada gawai.
“Komunikasi dalam keluarga menjadi kunci. Keluarga harus kembali menjadi tempat pulang yang aman, hangat, dan penuh perhatian,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kehadiran ayah dan ibu secara emosional dalam pengasuhan anak, pemberian teladan yang baik, serta penyediaan waktu berkualitas bersama keluarga. Dengan fondasi keluarga yang kuat, berbagai persoalan sosial di masyarakat diharapkan dapat ditekan sejak dari hulu.
Melalui penguatan ketahanan keluarga yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, PKK Kabupaten Sragen optimistis dapat berkontribusi nyata dalam mewujudkan Sragen yang berkemajuan, sejahtera, dan merata.( BisMus IGN)
