
BOYOLALI INDOGLOBENEWS.COM– Malam takbiran Idulfitri 20 Maret 2026 di Dukuh Pilang, Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari, berubah menjadi momen yang tak hanya meriah, tetapi juga penuh makna dan kehangatan.
Puluhan pemuda dan pemudi turun ke jalan, menggelar takbiran keliling dengan membawa obor. Cahaya api yang berbaris rapi menerangi jalan desa, menghadirkan suasana klasik yang kini mulai jarang ditemui di tengah era modern.

Lantunan takbir yang menggema berpadu dengan nyala obor, menciptakan pemandangan yang bukan hanya indah, tetapi juga menyentuh hati. Warga dari berbagai usia ikut larut dalam suasana—berjalan bersama, tersenyum, dan merasakan kebersamaan yang begitu kuat.
Ketua pemuda setempat menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dilakukan untuk menjaga tradisi lama agar tidak hilang ditelan zaman.
“Ini bukan sekadar takbiran. Kami ingin mengenalkan kepada generasi muda bahwa dulu, sebelum ada listrik, obor adalah penerang utama. Ini bagian dari sejarah yang harus tetap hidup,” ujarnya.

Tokoh masyarakat setempat juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi, menjaga tradisi seperti ini adalah bentuk kearifan lokal yang patut dipertahankan.
“Anak-anak sekarang jadi tahu bagaimana kehidupan dulu. Ini bukan hanya merayakan Lebaran, tapi juga belajar menghargai sejarah,” ungkapnya.
Antusiasme warga terlihat jelas. Anak-anak tampak kagum melihat nyala obor, sementara orang tua tersenyum mengingat masa lalu mereka. Malam itu terasa berbeda—lebih hangat, lebih dekat, dan lebih bermakna.

Tradisi takbiran dengan obor yang hampir punah, kini kembali hidup di Dukuh Pilang. Bukan hanya sebagai simbol penerangan, tetapi juga sebagai cahaya yang menjaga nilai kebersamaan dan warisan budaya.
Di tengah dunia yang terus berubah, Dukuh Pilang memberi pesan sederhana namun kuat: bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi—justru bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan.
Malam takbiran pun tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi cerita indah yang akan terus dikenang.
Jurnalis: Hendri Siswanto

