
Boyolali INDOGLOBENEWS.COM– Fenomena mengejutkan terjadi di Boyolali. Sejumlah warga mulai terang-terangan mengaku enggan membayar pajak kendaraan bermotor. Alasan utamanya: ekonomi lesu dan beban pajak yang dinilai semakin berat.
Tak hanya ramai di media sosial, kondisi ini kini benar-benar terasa di lapangan.
Salah satu warga Kecamatan Sambi, WN (45), mengaku belum membayar pajak dua sepeda motor miliknya. Padahal kendaraan tersebut dipakai setiap hari oleh istrinya untuk belanja ke pasar dan anaknya berangkat sekolah.
“Kalau pajaknya tinggi seperti ini mending tidak usah saya bayar dulu. Besok saja, nunggu pemutihan,” ujarnya, Kamis (13/2/2026).
Menurut WN, usaha yang sedang sepi memaksanya menekan pengeluaran. Ia memilih menunggu program pemutihan pajak atau penghapusan denda agar biaya yang dikeluarkan lebih ringan.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran tersendiri. Kebijakan pemutihan yang kerap digelar pemerintah daerah justru dinilai sebagian warga sebagai “momen emas” untuk menunda kewajiban.
Alih-alih membayar tepat waktu, sebagian masyarakat merasa lebih diuntungkan menunggu penghapusan denda.
Tren Baru di Tengah Tekanan Ekonomi
Lesunya usaha kecil, naiknya kebutuhan pokok, serta beban pajak yang dianggap tinggi menjadi kombinasi yang memengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin penerimaan daerah dari sektor pajak kendaraan ikut terdampak.
Fenomena di Boyolali ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi strategi kebijakan pajak di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.(HS)
