
MEDAN, Indoglobenews.com — Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka sejak 25 November 2025 telah memicu bencana hidrometeorologi parah di 12 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut). Per hari Kamis (27/11/2025), bencana ini telah mengakibatkan 34 orang meninggal dunia dan 52 lainnya dinyatakan hilang. Operasi pencarian dan evakuasi intensif dilakukan di tengah terputusnya akses jalan dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak.
Bencana yang dipicu curah hujan ekstrem ini juga telah memaksa 1.168 warga mengungsi. Tim SAR gabungan dari Basarnas, Polda Sumut, TNI, Polri, BPBD, dan relawan dikerahkan untuk menangani daerah-daerah terdampak terparah, seperti Tapanuli Selatan (17 tewas), Kota Sibolga (8 tewas), Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal.
Basarnas mengerahkan tim dengan peralatan canggih, termasuk drone thermal, untuk operasi pencarian selama 24 jam. Namun, upaya tersebut terkendala akses jalan yang putus total dan lumpuhnya jaringan komunikasi.
Salah satu keluarga korban dari Purwakarta, Jawa Barat, mengonfirmasi kesulitan yang sama. “Hingga Kamis (27/11/2025), kami belum dapat terhubung dengan keluarga di Sibolga dan Pandan, diduga karena mati listrik dan terputusnya jaringan komunikasi,” ujar perwakilan keluarga kepada Indoglobenews.
Mereka berharap restorasi komunikasi segera dilakukan untuk mempertemukan kembali keluarga yang terpisah.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyalurkan bantuan logistik senilai Rp561,5 juta untuk korban di Tapanuli Tengah. Bantuan tersebut meliputi 400 paket Family Kit dan 400 tenda gulung.
Tiga lokasi pengungsian utama telah diaktifkan untuk menampung para pengungsi, yaitu GOR Pandan di Tapanuli Tengah, Gedung SMPN 5 Parombunan di Kota Sibolga, dan RS Bhayangkara Batang Toru.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Siklon Tropis Senyar adalah pemicu utama hujan ekstrem dan angin kencang di Aceh dan Sumut. Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa longsor di Sibolga dipengaruhi oleh faktor lereng yang curam (25-60%) yang diperparah oleh curah hujan sangat tinggi.
Senada dengan temuan di lapangan, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumut menilai bencana ini sebagai “bencana ekologis” yang diperburuk oleh penggundulan hutan di ekosistem Batang Toru. Analisis ini diperkuat dengan ditemukannya banyak kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang, mengindikasikan terjadinya deforestasi di hulu sungai.
Pemerintah telah menggelar rapat terbatas lintas kementerian yang dipimpin oleh Menko PMK untuk mempercepat penanganan darurat dan penyaluran bantuan.
BMKG memperingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlanjut hingga Desember 2025 akibat anomali Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan longsor susulan, angin kencang, serta gelombang tinggi yang dapat mencapai 4 meter di perairan barat Sumut.
Prioritas utama saat ini memastikan operasi SAR berjalan lancar dan memulihkan jaringan komunikasi di wilayah terdampak guna mendukung upaya bantuan dan reunifikasi keluarga. (IDS)
