
OKU Timur / Sumatera Selatan indoglobenews.com — Di tengah riuh cibiran, keraguan, dan upaya merendahkan yang kerap datang dari berbagai arah, PBH Feradi Wpi Perwakilan Sumatera Selatan,Ass.Adv. Eri Widosen, C.Pfw., C.Mdf., C.Ftax., menyampaikan pernyataan mendalam yang sarat makna keikhlasan, kesabaran, dan keyakinan teguh kepada Allah SWT.
Berikut pernyataannya:
“Insyaallah, dengan izin Allah, roda kehidupan akan terus berputar. Biarlah saat ini kita dipandang sebelah mata. Tugas kita bukan membalas kata-kata, bukan pula membalas kesombongan dengan mulut. Tugas kita adalah terus berproses dalam diam, bekerja dengan tulus, dan membiarkan keberhasilan — yang diraih lewat karya nyata dan prestasi — yang berbicara nanti.”
Eri Widosen menegaskan bahwa penghinaan dan upaya merendahkan yang terjadi saat ini justru menjadi bahan bakar semangat, bukan alasan untuk berhenti.
“Tahun ini kita direndahkan — Insyaallah, tahun depan kita ditinggikan. Tidak perlu membalas kesombongan mereka dengan kata-kata. Mari kita tunjukkan kualitas diri lewat karya, lewat pelayanan, lewat kebenaran yang kita perjuangkan.”
Ia juga mengingatkan bahwa penilaian manusia itu terbatas dan bisa keliru, namun ketetapan Allah itu sempurna dan pasti tiba pada waktunya.
“Ketika manusia merendahkanmu, ingatlah: takdirmu ada di tangan Allah, bukan di mulut mereka. Biarkan waktu yang membuktikan siapa yang benar-benar berproses, dan siapa yang hanya mampu mencela tanpa hasil nyata. Waktu akan menjawab semuanya.”
Menurutnya, sikap terbaik menghadapi kesombongan dan cibiran bukanlah perdebatan yang membuang tenaga, melainkan ketenangan hati serta kesungguhan memperbaiki diri dan terus melangkah.
“Biarkan mereka merasa hebat dengan apa yang mereka miliki hari ini. Kita cukup fokus memperbaiki diri, mengetuk pintu langit dengan doa, dan percaya bahwa rencana Allah jauh lebih besar dari semua cibiran manusia. Merendah bukan berarti kalah. Insyaallah, rasa sakit karena direndahkan hari ini akan diubah Allah menjadi kekuatan besar untuk mengangkat derajat kita di waktu yang tepat.”
Eri Widosen menutup pernyataannya dengan pesan untuk tetap teguh pada prinsip dan jalan kebenaran, biarkan hasil yang berbicara.
“Sikap terbaik menghadapi orang sombong adalah dengan tetap melangkah. Biarkan Allah yang mengetuk hati mereka lewat kesuksesan yang akan kita raih nanti — bukan karena kehendak kita, tapi karena izin-Nya.”
Demikian pernyataan ini disampaikan sebagai sikap dan keteguhan hati, sekaligus pengingat bahwa kesabaran, keikhlasan, dan kerja keras yang disertai doa tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah SWT (Eri).
