
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM — Alex, petani warga Gringging, Sambungmacan Sragen, Jawa Tengah, awal mula kesal dengan hama tikus yang merusak lahan padi miliknya, Minggu ( 19/04/2026 ). Ia telah menemukan cara inovatif untuk mengatasi hama tikus tersebut.
Ia mencampurkan solar ke dalam air yang digunakan untuk mengisi lahan sawah, dan hasilnya sangat efektif dalam mengusir hama tikus.
Cara ini dianggap lebih aman dan lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan aliran listrik maupun pestisida kimia yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. ” Saya telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi hama tikus, tapi tidak ada yang efektif seperti mencampurkan solar ke dalam air,” kata Alex.
Ia mulai menggunakan solar untuk campuran pengairan lahan sejak usia tanam padi memasuki usia 20 hari. Perhitungannya dalam 2 hektar lahan sawah ia hanya menghabiskan 2 liter solar saja dengan jeda penggunaan setiap 5 hari sekali proses pengairan. Dalam satu kali musim tanam sampai panen ia mengaku menghabiskan 35 liter solar.

Solar yang dicampurkan ke dalam air akan membuat tikus tidak nyaman dan pergi dari lahan sawah. Selain itu, solar juga tidak akan merusak tanaman padi dan tidak akan mempengaruhi kualitas hasil panen. “Cara ini juga lebih murah dan mudah dilakukan, sehingga kami dapat menghemat biaya produksi,” imbuhnya.
Dirinya menggunakan cara ini selama beberapa musim tanam dan hasilnya sangat memuaskan. “Saya telah melihat penurunan populasi tikus yang signifikan dan hasil panen kami meningkat.” Jelasnya.
Namun ada petani yang enggan menggunakan solar sebagai campuran untuk pengairan. Ia lebih nyaman menggunakan plastik dalam menghalau hama tikus masuk ke lahan sawahnya.
Cara ini dilakukan dengan memasang plastik setinggi 50 cm di sekeliling sawah. Menurutnya cara ini juga efektif dan murah. ” Kami dapat menghemat biaya produksi dan meningkatkan hasil panen dengan cara yang alami dan ramah lingkungan ” kata Manto.
” Biaya pembuatan pembatas plastik relatif murah, tidak merusak tanaman padi serta dapat digunakan kembali untuk beberapa musim tanam” pungkas Manto. ( Bisyri )
