
BUOL – Indoglobe News.Com, Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Daerah (HUTDA) Kabupaten Buol ke-27, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Buol menggelar kegiatan Dzikir dan Tabligh Akbar pada Sabtu (10/10/2026). Kegiatan keagamaan ini dipusatkan di Masjid Agung At-Taqwa Buol dan dihadiri oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) serta ribuan masyarakat Kabupaten Buol.
Kegiatan bernuansa spiritual ini terselenggara atas kerja sama antara Pemda Kabupaten Buol dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Buol sebagai bentuk rasa syukur atas usia Kabupaten Buol yang telah menginjak 27 tahun.
Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan dzikir bersama yang dipandu oleh Ustadz Rifai Naukoko. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti seluruh ruangan masjid saat bait-bait dzikir dan doa dilantunkan bersama.
Sementara itu, puncak acara Tabligh Akbar menghadirkan penceramah kondang asal Gorontalo, Ustadz H. Haris Hako, S.Ag., M.M., atau yang akrab disapa Ustadz “Om Bentor”. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pesan-pesan kesejukan, pentingnya menjaga tali silaturahmi, serta menguatkan kebersamaan dalam membangun daerah.
Masyarakat dan ASN yang hadir tampak sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. Melalui kegiatan Dzikir dan Tabligh Akbar ini, diharapkan Kabupaten Buol semakin berkah, damai, dan sejahtera di usianya yang ke-27.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran penceramah yang telah memberikan tausiah serta pencerahan spiritual kepada masyarakat Buol. Beliau menilai kegiatan keagamaan, seperti tausiah dan majelis zikir bersama, memiliki dampak yang sangat positif bagi penguatan moral dan keimanan warga.
“Semangat beragama ini harus tetap kita dorong. Semangat beragama ini harus menjadi salah satu kekuatan besar untuk membangun daerah kita, membangun negara kita, apalagi di Kabupaten Buol,” ujar Wakil Bupati.
Selain menekankan nilai-nilai keagamaan, beliau juga menyoroti keragaman budaya dan tradisi lokal yang ada di tengah masyarakat, seperti tradisi dalam prosesi akad nikah hingga acara mengenang/peringatan kematian. Menurutnya, perbedaan tradisi dan kebiasaan di setiap daerah atau komunitas adalah bagian dari kekayaan budaya yang tidak perlu diperdebatkan.
Wakil Bupati mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk terus saling menghargai dan menghormati serta menjaga silaturahmi di atas perbedaan yang ada.
“Mari kita saling menghargai dan saling menghormati. Kalau ada perbedaan, ya kita hadapi perbedaan itu sebagai sunnatullah. Sunnatullah ini kita jalankan dengan bersilaturahmi. Kalau ada yang tidak mau zikir bersama, ya tenang saja, bisa zikir sendiri, tidak perlu menyalahkan satu sama lain,” tambahnya.
(Sudirman Sija, ING)
Rilis
Humas Kominfo Buol
