
Poto Emak emak warga Kinatan RT 14 Desa Bumiaji Kecamatan Gondang Sragen peringati Hari Emansipasi Wanita, dengan menggelar senam gembira dan Bacakan Sejarah Singkat Raden Ajeng Kartini Selasa 21/4/2026 poto istimewa.——————————————————–
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM — Banyak cara untuk memperingati Hari ibu Kita Kartini, dibeberapa daerah serentak, para ASN di Sragen berbusana kebaya dan baju sorjan khas jawa, namun ibu ibu / emak emak di Desa Bumiaji, Kecamatan Gondang menggelar senam gembira di halaman rumah Sri Siman Kinatan RT 14 Bumiaji Selasa ( 21/4/2026 )
Kelompok ibu ibu dari berbagai kalangan tersebut berkumpul dengan berbusana kebaya menggelar senam gembira untuk ikut berpartisipasi dalam memperingati Hari ibu Kita Kartini 2026, kelompok ibu dari berbagai civitas, ada yang pedagang,ada anggota BPD dan dari wartawan media online, bersama sama ikut dalam senam gembira yang dipimpin oleh Siti Rumpini dan Arum Sugeng, puluhan ibu ibu dan warga Kinatan RT 14 Desa Bumiaji sangat antusias dan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat di Desa Bumiaji.
Dalam kegiatan senam gembira Kartini di akhir dengan pembacaan sejarah singkat Raden Ajeng Kartini.
Anis Guru SMA Negeri 1 Sragen salah satu peserta senam gembira menyampaikan bahwa kisah Singkat R.A. Kartini:
Kelahiran dan Masa Kecil:
Lahir di Jepara, 21 April 1879 dari keluarga bangsawan (Priyayi). Ayahnya, RM Sosroningrat, Bupati Jepara.
Beruntung bisa sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun, belajar bahasa Belanda.
Masa Pingitan & Pemikiran:
Sesuai adat, usia 12 tahun dipingit di rumah.
Selama dipingit, ia aktif membaca buku/majalah Eropa dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda, seperti Rosa Abendanon, mengkritik budaya feodal dan pernikahan paksa.
Pernikahan:
Pada 12 November 1903, menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Suaminya mendukung cita-citanya, memungkinkan Kartini mendirikan sekolah wanita di timur kompleks kantor kabupaten.
Wafat dan Warisan:
Melahirkan putra, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 13 September 1904.
Wafat empat hari kemudian, 17 September 1904, pada usia 25 tahun.
Surat-suratnya dibukukan oleh JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Perjuangannya dalam pendidikan dan kesetaraan menjadikannya pahlawan nasional, diperingati setiap 21 April.ini kisah Raden Ajeng Kartini, semoga kita sebagai wanita selalu menjaga dan menjadi tauladan di lingkup rumah tangga, kita tetap ingat dan selalu memperingati seperti senam gembira ini , ujarnya. ( Eny )
