
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM –
Perkuat kesehatan ibu dan anak Bidan senior gelar temu kangen se – eks Karesidenan Surakarta, Kegiatan ini menjadi ruang pada bidan senior dalam mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi serta percepatan penurunan stunting,acara berlangsung di Pendopo rumah Bupati Sumonegoro Sragen.
Acara yang berlangsung penuh keakraban tersebut dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Sragen, Suroto, Sekretaris Daerah Kabupaten Sragen, Hargiyanto, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, Udayanti Proborini, bersama ratusan bidan senior dari wilayah Solo Raya.
Wakil Bupati Sragen, Suroto dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran bidan, termasuk bidan senior, tetap sangat strategis dalam pembangunan kesehatan daerah.

“Upaya menurunkan angka kematian ibu, angka kematian neonatal, serta stunting tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kolaborasi, komitmen, dan kesinambungan lintas generasi,” ujar Wabup.
Ia menyampaikan bahwa pengalaman, kearifan, dan nilai profesionalisme bidan senior merupakan modal besar untuk membimbing bidan muda agar tetap menjunjung tinggi etika, empati, dan keselamatan ibu serta anak.
“Pemerintah Kabupaten Sragen terus berkomitmen mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak, penurunan stunting, serta penguatan layanan kesehatan primer. Namun, keberhasilan program tersebut tidak akan tercapai tanpa peran aktif para bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat,” tegasnya.
Ketua Panitia, Endang Rujianti, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menjaga semangat kebersamaan para bidan senior.

“Temu kangen ini menjdi ruang bahagia dan penguat komitmen kami untuk terus mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi serta stunting, demi terwujudnya generasi sehat dan masa depan yang hebat,” jelasnya.
Kartini, bidan senior sekaligus pencipta Lagu Hymne Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Dalam sambutannya menegaskan bahwa pengabdian bidan adalah panggilan jiwa untuk melayani masyarakat selama 24 jam tanpa henti, sebuah nilai luhur yang perlu terus dijaga lintas generasi.
“Menurut teori di usia 50 tahun pertemanan sudah sangat sedikit, dan pertemuan ini menjadi penyemangat untuk kita semua. Kami boleh menua, tetapi semangat harus tetap muda” pungkasnya ( wah )

