
BOYOLALI INDOGLOBENEWS.COM– Momentum bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di berbagai tempat ibadah. Umat Muslim berbondong-bondong mendatangi masjid untuk menunaikan salat dan mencari keberkahan.
Salah satu masjid yang ramai dikunjungi adalah Masjid Ciptomulyo yang terletak di Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Masjid tua peninggalan Raja Keraton Surakarta, Paku Buwono X ini hingga kini masih berdiri kokoh meski usianya telah lebih dari satu abad.
Setiap hari selama Ramadan, masjid tersebut dipadati warga yang datang untuk menunaikan salat berjamaah, tadarus Alquran, hingga sekadar beristirahat menikmati suasana religius yang sejuk dan tenang.
Pengurus Masjid Ciptomulyo, Achmadi Harjono, mengungkapkan bahwa terdapat keunikan yang jarang diketahui masyarakat luas.
“Uniknya, arah kiblat masjid ini tidak menghadap barat laut seperti kebanyakan masjid di Indonesia, melainkan mengarah ke barat daya,” ujar Achmadi Harjono kepada wartawan.
Ia memastikan, sejak awal dibangun, arah kiblat tersebut memang sudah ditetapkan mengarah ke barat daya dan tetap dipertahankan hingga sekarang.
Secara historis, Masjid Ciptomulyo dibangun pada Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Tahun Je dalam penanggalan Jawa atau sekitar tahun 1905 Masehi, pada masa pemerintahan Paku Buwono X.
Dari sisi arsitektur, masjid ini kental dengan desain Jawa kuno berbentuk limasan menyerupai pendopo.
Bangunan memiliki lima pintu utama yang seluruhnya berada di bagian depan. Pada masing-masing pintu terdapat ukiran dengan sisipan tulisan “PB X” sebagai penanda masa pembangunannya.
Tulisan “PB X” juga terlihat jelas di bagian atas bangunan. Bahkan, bedug dan kentongan yang masih digunakan hingga kini turut bertuliskan aksara Jawa beserta inisial PB X.
Konstruksi kayu bangunan tetap terjaga keasliannya, termasuk empat tiang utama atau soko guru yang berdiri kokoh di dalam masjid.
Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, bentuk asli bangunan tetap dipertahankan.
Di bagian lantai paling depan terdapat gambar kompas penunjuk arah kiblat, yang semakin menegaskan perbedaan arah kiblat masjid ini dibandingkan masjid pada umumnya.
Selain nilai sejarahnya yang tinggi, kawasan Masjid Ciptomulyo juga dikelilingi aliran sungai dengan air jernih yang menambah kesejukan suasana. Hal ini membuat masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi religi dan sejarah yang kerap dikunjungi warga, khususnya saat Ramadan.
“Masjid ini bukan sekadar tempat salat, tetapi juga menjadi tujuan wisata religi dan sejarah, terutama di bulan Ramadan,” pungkas Achmadi Harjono.(HS)

