
SRAGEN INDOGLOBENEWS.COM – Ada yang berbeda di kawasan Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kamis (7/5/2026)Puluhan pelajar tampak asyik memahat batu, mencetak replika fosil, hingga mencoba teknik melukis gua. Mereka tidak sedang bermain, melainkan tengah menyelami kehidupan manusia purba dalam gelaran Sragen Prehistoric Festival 2026.
Event tahunan besutan Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen kali ini naik kelas. Tak sekadar edukasi lokal, ajang ini dikolaborasikan dengan program internasional Human Origin Heritage (HOH) – Sangiran International Youth Forum (SIYF). Tercatat, 40 pelajar setingkat SMA asal Sragen dipertemukan dengan mahasiswa arkeologi dari delapan negara. Mulai dari Prancis, Italia, Amerika Serikat, Maroko, Brasil, Lithuania, Angola, hingga tuan rumah Indonesia.
Ketua Penyelenggara sekaligus Pamong Budaya Cagar Budaya Disdikbud Sragen, Andjarwati Sri Sajekti, menjelaskan bahwa konsep tahun ini sengaja dibuat lebih “hidup”. Peserta diajak mempraktekkan simulasi aktivitas budaya masa lampau.

Kegiatan seperti Knapping atau Teknik pembuatan alat dari batu. Kemudian Casting atau Pembuatan cetakan artefak atau fosil. Hingga Rock Art Painting yakni Seni melukis dinding gua diajarkan.
Lantas memahami pula Gathered yakni Simulasi meramu makanan secara tradisional. “Kami menerapkan metode touching, feeling, enjoying the journey, Tujuannya agar peserta lebih mudah memahami esensi kehidupan purba lewat pengalaman langsung, bukan sekadar teori,” ujar Andjarwati.
Puncak acara ditandai dengan diskusi hangat antara pelajar Sragen dan mahasiswa asing. Sekitar 100 anak muda lintas bangsa ini berdialog tentang eksistensi, tantangan, serta masa depan Situs Sangiran sebagai warisan budaya dunia (World Cultural Heritage).
Program HOH sendiri merupakan inisiasi kolaboratif antara MNHN Prancis, UKSW Salatiga, BRIN, Erasmus, hingga National Geographic.

Fokusnya adalah pelatihan partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian situs prasejarah. “Ini adalah momentum penting di mana kaum muda bicara tentang Sangiran. Kita ingin mengungkap kompleksitas konservasi sekaligus membangun kesadaran bahwa situs arkeologi adalah sumber daya budaya yang tak ternilai,” ungkap Johny Adhi Aryawan, Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Sragen.
Dia menegaskan melalui festival ini, Sangiran tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan fosil bisu. Melainkan ruang belajar global yang menghubungkan masa lalu dengan visi masa depan di tangan generasi muda.
Salah satu peserta, Hilmi Abdul Rozaq dari SMA Negeri 1 gemolong mengatakan kegiatan tahun ini cukup menarik. “Kita bisa belajar dan mengetahui manusia purba homo erectus bisa membuat alat alat pipih, dan bertahan hidup. Kita juga diajarkan membuat replika atau salinan fosil yang telah ditemukan, kegiatan ini seru banget,” ujarnya. (Ono)
